Berawal dari tekad seorang diaspora asal Sumatera, Henry Manik, yang selama tujuh tahun terakhir dengan gigih menggagas dan menyelenggarakan Samosir Musik Internasional — sebuah panggung budaya yang bertujuan mengenalkan musik dan tradisi Sumatera ke pentas dunia. Meskipun semangatnya tak pernah surut, perjalanan panjang tersebut tidaklah mudah. Dalam kurun waktu itu, Henry harus berjuang sendiri, merancang program, menjalin jaringan, dan mencari donatur tanpa hasil yang berarti.
Memasuki tahun kedelapan, rasa frustrasi mulai menyelimuti. Keletihan fisik dan batin berpadu dengan kekecewaan atas minimnya dukungan konkret membuat Henry nyaris mengambil keputusan besar: menghentikan Samosir Musik Internasional untuk selamanya.
Namun, takdir berkata lain.
Dalam masa-masa penuh kegamangan itu, Henry bertemu dengan dua sosok baru yang belum lama dikenalnya: Nelly Marinda Situmorang, seorang jurnalis senior, dan Yanes David Sidabutar, seorang pebisnis di sektor migas. Meski latar belakang keduanya jauh dari dunia musik dan budaya, justru dari sanalah datang angin segar. Mereka menawarkan lebih dari sekadar dukungan moral — keduanya hadir dengan semangat, ide, serta strategi manajerial yang membangun. Mereka membantu menyusun ulang konsep acara, memperkuat aspek pengelolaan, dan merancang skema yang lebih realistis dalam mencari mitra dan donatur.
Dari titik inilah, semangat yang sempat meredup kembali menyala. Tidak lagi sendiri, Henry kini berjalan bersama dua rekan yang sevisi. Kesadaran akan pentingnya wadah legal dan berkelanjutan mendorong ketiganya untuk melangkah lebih jauh.
Tepat pada 28 Maret 2025, Henry Manik, Nelly Marinda Situmorang, dan Yanes David Sidabutar secara resmi mendirikan Yayasan Lestari Budaya Sumatera. Yayasan ini dibentuk sebagai rumah besar untuk segala bentuk upaya pelestarian dan pengembangan budaya Sumatera, baik melalui seni musik, pertunjukan, literasi budaya, hingga penguatan komunitas lokal.
Samosir Musik Internasional pun kini berada di bawah naungan yayasan ini, tidak lagi sebagai kerja individu, tetapi sebagai bagian dari gerakan kolektif yang lebih luas. Dengan semangat baru dan visi bersama, Yayasan Lestari Budaya Sumatera berkomitmen untuk terus menjaga denyut kehidupan budaya Sumatera — tidak hanya untuk masa kini, tetapi juga untuk generasi yang akan datang.